Jumat, 23 Oktober 2009

Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pembelajaran Bahasa Indonesia
Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang strategi pembelajaran Bahasa Indonesia dan efektivitasnya terhadap pencapaian tujuan belajar, kajian pustaka penelitian ini akan difokuskan pada (1) pembelajaran bahasa, (2) strategi pembelajaran Bahasa Indonesia, meliputi metode dan teknik pembelajaran Bahasa Indonesia, dan (3) hasil pembelajaran

2.1 Pembelajaran Bahasa
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa Degeng (1989). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975) juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pebelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Sementara itu, dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA, disebutkan bahwa tujuan pemelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi (1) siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial, (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa dapat disarikan sebagai berikut. Pebelajar akan belajar bahasa dengan baik bila (1) diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri (Aminuddin, 1994).

2.2 Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembicaraaan mengenai strategi pembelajaran bahasa tidak terlepas dari pembicaraan mengenai pendekatan, metode, dan teknik mengajar. Machfudz (2002) mengutip penjelasan Edward M. Anthony (dalam H. Allen and Robert, 1972) menjelaskan sebagai berikut.
2.2.1 Pendekatan Pembelajaran
Istilah pendekatan dalam pembelajaran bahasa mengacu pada teori-teori tentang hakekat bahasa dan pembelajaran bahasa yang berfungsi sebagai sumber landasan/prinsip pengajaran bahasa. Teori tentang hakikat bahasa mengemukakan asumsi-asumsi dan tesisi-tesis tentang hakikat bahasa, karakteristik bahasa, unsur-unsur bahasa, serta fungsi dan pemakaiannya sebagai media komunikasi dalam suatu masyarakat bahasa. Teori belajar bahasa mengemukakan proses psikologis dalam belajar bahasa sebagaimana dikemukakan dalam psikolinguistil. Pendekatan pembelajaran lebih bersifat aksiomatis dalam definisi bahwa kebenaran teori-teori linguistik dan teori belajar bahasa yang digunakan tidak dipersoalkan lagi. Dari pendekatan ini diturunkan metode pembelajaran bahasa. Misalnya dari pendekatan berdasarkan teori ilmu bahasa struktural yang mengemukakan tesis-tesis linguistik menurut pandangan kaum strukturalis dan pendekatan teori belajar bahasa menganut aliran behavioerisme diturunkan metode pembelajaran bahasa yang disebut Metode Tata Bahasa (Grammar Method).

2.2.2 Metode Pembelajaran
Istilah metode berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.
Dalam strategi pembelajaran, terdapat variabel metode pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu strategi pengorganisasian isi pembelajaran, (b) strategi penyampaian pembelajaran, dan (c) startegi pengelolaan pembelajaran (Degeng, 1989). Hal ini akan dijelaskan sebagai berikut.
(a) Strategi Pengorganisasian Isi Pembelajaran
Adalah metode untuk mengorganisasikan isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lain-lain yang setingkat dengan itu. Strategi penyampaian pembelajaran adalah metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada pebelajar untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari pebelajar. Adapun startegi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara pebelajar dengan variabel pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran.
Strategi pengorganisasian isi pembelajaran dibedakan menjadi dua jenis, yaitu strategi pengorganisasian pada tingkat mikro dan makro. Strategi mikro mengacu pada metode untuk mengorganisasian isi pembelajaran yang berkisar pada satu konsep atau prosedur atau prinsip. Sedangkan strategi makro mengacu pada metode untuk mengorganisasi isis pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur atau prinsip. Strategi makro lebih banyak berurusan dengan bagaimana memilih, menata ururtan, membuat sintesis, dan rangkuman isi pembelajaran yang paling berkaitan. Penataan ururtan isi mengacku pada keputusan tentang bagaimana cara menata atau menentukan ururtan konsep, prosedur atau prinsip-prinsip hingga tampak keterkaitannya dan menjadi mudah dipahami.

(b) Strategi Penyampaian Pembelajaran
Strategi penyampaian pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Strategi ini memiliki dua fungsi, yaitu (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar, dan (2) menyediakan informasi atau bahan-bahan yang diperlukan pebelajar untuk menampilkan unjuk kerja (seperti latihan tes).
Secara lengkap ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam mendeskripsikan strategi penyampaian, yaitu (1) media pembelajaran, (2) interaksi pebelajar dengan media, dan (3) bentuk belajar mengajar.
(1) Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang dapat dimuat pesan yang akan disampaikan kepada pebelajar baik berupa orang, alat, maupun bahan. Interkasi pebelajar dengan emdia adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan belajar. Adapun bentuk belajar mengajar adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu pada apakah pembelajaran dalam kelompok besar, kelompok kecil, perseorangan atau mandiri (Degeng, 1989).
Martin dan Brigss (1986) mengemukakan bahwa media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan pembelajaran.
Essef dan Essef (dalam Salamun, 2002) menyebutkan tiga kriteria dasar yang dapat digunakan untuk menyeleksi media, yaitu (1) kemampuan interaksi media di dalam menyajikan informasi kepada pebelajar, menyajikan respon pebelajar, dan mengevaluasi respon pebelajar, (2) implikasi biaya atau biaya awal melipui biaya peralatan, biaya material (tape, film, dan lain-lain) jumlah jam yang diperlukan, jumlah siswa yang menerima pembelajaran, jumlah jam yang diperlukan untuk pelatihan, dan (3) persyaratan yang mendukungh atau biaya operasional.

(2) Interaksi Pebelajar Dengan Media
Bentuk interaksi antara pembelajaran dengan media merupakan komponen penting yang kedua untuk mendeskripsikan strategi penyampaian. Komponen ini penting karena strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa memebri gambaran tentang pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh suatu media pada kegiatan belajar siswa. Oleh sebab itu, komponen ini lebih menaruh perhatian pada kajian mengenai kegiatan belajar apa yang dilakukan oleh siswa dan bagaimana peranan media untuk merangsang kegiatan pembelajaran.

(3) Bentuk Belajar Mengajar
Gagne (1968) mengemukakan bahwa “instruction designed for effective learning may be delivered in a number of ways and may use a variety of media”. Cara-cara untuk menyampaikan pembelajaran lebih mengacu pada jumlah pebelajar dan kreativitas penggunaan media. Bagaimanapun juga penyampaian pembelajaran dalam kelas besar menuntu penggunaan jenis media yang berbeda dari kelas kecil. Demikian pula untuk pembelajaran perseorangan dan belajar mandiri.

(c) Strategi Pengelolaan Pembelajaran
Strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana interaksi antara pebelajar dengan variabel-variabel metode pembelajaran lainnya. Strategi ini berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian tertentu yang digunakan selama proses pembelajaran. Paling sedikit ada empat klasifikasi variabel strategi pengelolaan pembelajaran yang meliputi (1) penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran, (2) pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, dan (3) pengelolaan motivasional, dan (4) kontrol belajar.
Penjadwalan penggunaan strategi pembelajaran atau komponen suatu strategi baik untuk strategi pengorganissian pembelajaran maupun strategi penyampaian pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan pembelajaran. Penjadwalan penggunaan strategi pengorganisasian pembelajaran biasanya mencakup pertanyaan “kapan dan berapa lama siswa menggunakan setiap komponen strategi pengorganisasian”. Sedangkan penjadwalan penggunaan strategi penyampaian melibatkan keputusan, misalnya “kapan dan untuk berapa lama seorang siswa menggunakan suatu jenis media”.
Pembuatan catatan kemajuan belajar siswa penting sekali bagi keperluan pengambilan keputusan-keputusan yang terkait dengan strategi pengelolaan. Hal ini berarti keputusan apapun yang dimabil haruslah didasarkan pad ainformasi yang lengkap mengenai kemajuan belajar siswa tentang suatu konsep, prosedur atau prinsip? Bila menggunakan pengorganisasian dengan hierarki belajar, keputusna yang tepat mengenai unsur-unsur mana saja yang ada dalam hierarki yang diajarkan perlu diambil. Semua ini dilakukan hanya apabila ada catatan yang lengkap mengenai kemajuan belajar siswa.
Pengelolaan motivasional merupakan bagian yang amat penting dari pengelolaan inetraksi siswa dengan pembelajaran. Gunanya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sebagian besar bidang kajian studi sebenarnya memiliki daya tarik untuk dipelajari, namun pembelajaran gagal menggunakannya sebagai alat motivasional. Akibatnya, bidang studi kehilangan daya tariknya dan yang tinggal hanya kumpulan fakta dan konsep, prosedur atau prinsip yang tidak bermakna.
Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers (dalam Machfudz, 2002) menyatakan dalam bukunya “Approaches and Methods in Language Teaching” bahwa metode pembelajaran bahasa terdiri dari (1) the oral approach and stiuasional language teaching, (2) the audio lingual method, (3) communicative language teaching, (4) total phsyical response, (5) silent way, (6) community language learning, (7) the natural approach, dan (8) suggestopedia.
Saksomo (1984) menjelaskan bahwa metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia antara lain (1) metode gramatika-alih bahasa, (2) metode mimikri-memorisasi, (3) metode langsung, metode oral, dan metode alami, (4) metode TPR dalam pengajaran menyimak dan berbicara, (5) metode diagnostik dalam pembelajaran membaca, (6) metode SQ3R dalam pembelajaran membaca pemahaman, (7) metode APS dan metode WP2S dalam pembelajaran membaca permulaan, (8) metode eklektik dalam pembelajaran membaca, dan (9) metode SAS dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan.
Menurut Reigeluth dan Merril (dalam Salamun, 2002) menyatakan bahwa klasifikasi variabel pembelajaran meliputi (1) kondisi pembelajaran, (2) metode pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran.
(1) Kondisi Pembelajaran
Kondisi pembelajaran adalah faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran (Salamun, 2002). Kondisi ini tentunya berinteraksi dengan metode pembelajaran dan hakikatnya tidak dapat dimanipulasi. Berbeda dengan halnya metode pembelajaran yang didefinisikan sebagai cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi pembelajaran yang berbeda. Semua cara tersebut dapat dimanipulasi oleh perancang-perancang pembelajaran. Sebaliknya, jika suatu kondisi pembelajaran dalam suatu situasi dapat dimanipulasi, maka ia berubah menjadi metode pembelajaran. Artinya klasifikasi variabel-variabel yang termasuk ke dalam kondisi pembelajaran, yaitu variabel-variabelmempengaruhi penggunaan metode karena ia berinteraksi dengan metode danm sekaligus di luar kontrol perancang pembelajaran. Variabel dalam pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu (a) tujuan dan karakteristik bidang stuydi, (bahasa) kendala dan karakteristik bidang studi, dan (c) karakteristik pebelajar.

(2) Metode Pembelajaran
Machfudz (2000) mengutip penjelasan Edward M. Anthony (dalam H. Allen and Robert, 1972) menjelaskan bahwa istilah metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini lebih bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar. Sedangkan menurut Salamun (2002), metode pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Jadi dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah sebuah cara untuk perencanaan secara utuh dalam menyajikan materi pelajaran secara teratur dengan cara yang berbeda-beda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda.
(3) Hasil Pembelajaran
Hasil pembelajaran adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran (Salamun, 2002). Variabel hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu kefektifav, (2) efisiensi, dan (3) daya tarik.
Hasil pembelajaran dapat berupa hasil nyata (actual outcomes), yaitu hasil nyata yang dicapai dari penggunaan suatu metode di bawah kondisi tertentu, dan hasil yang diinginkan (desired outcomes), yaitu tujuan yang ingin dicapai yang sering mempengaruhi keputusan perancang pembelajaran dalam melakukan pilihan metode sebaiknya digunakan klasifikasi variabel-variabel pembelajaran tersebut secara keseluruhan ditunjukkan dalam diagram berikut.

Kondisi Tujuan dan karakteristik bidang studi Kendala dan karakteristik bidang studi Karakteristik siswa

Metode Strategi pengorganisasian pembelajaran: strategi makro dan strategi mikro Strategi penyampaian pembelajaran Strategi pengelolaan pembelajaran



Hasil Keefektifan, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran

Diagram 1: Taksonomi variabel pembelajaran (diadaptasi dari Reigeluth dan Stein: 1983)

Keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan tingkat pencapaian pebelajar. Efisiensi pembelajaran biasanya diukur rasio antara jefektifan dan jumlah waktu yang dipakai pebelajar dan atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan. Daya tatik pembelajaran biasanya juga dapat diukur dengan mengamati kecenderungan siswa untun tetap terus belajar. Adapaun daya tarik pembelajaran erat sekali dengan daya tarik bidang studi. Keduanya dipengaruhi kualitas belajar.

2.2.3 Teknik Pembelajaran
Istilah teknik dalam pembelajaran bahasa mengacu pada pengertian implementasi perencanaan pengajaran di depan kelas, yaitu penyajian pelajaran dalam kelas tertentu dalam jam dan materi tertentu pula. Teknik mengajar berupa berbagai macam cara, kegiatan, dan kiat (trik) untuk menyajikan pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Teknik pembelajaran bersifat implementasi, individual, dan situasional.
Saksomo (1983) menyebutkan teknik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia antara lain (1) ceramah, (2) tanya—jawab , (3) diskusi, (4) pemebrian tugas dan resitasi, (5) demonstrasi dan eksperimen, (6) meramu pendapat (brainstorming), (7) mengajar di laboratorium, (8) induktif, inkuiri, dan diskoveri, (9) peragaan, dramatisasi, dan ostensif, (10) simulasi, main peran, dan sosio-drama, (11) karya wisata dan bermain-main, dan (12) eklektik, campuran, dan serta—merta.


DAFTAR PUSTAKA
Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud
Darjowidjojo, Soenjono. 1994. Butir-butir Renungan Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Salatiga: Univeristas Kristen Satya Wacana
Degeng, I.N.S. 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP dan IPTDI
Depdikbud. 1995. Pedoman Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta: Proyek Pembinaan Sekolah Dasar
Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM
Moeleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya.
Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang
Salamun, M. 2002. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren. Tesis.. Tidak diterbitkan
Sholhah, Anik. 2000. Pertanyaan Tutor dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di UM. Skripsi. Tidak diterbitkan.
Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
Sugiono, S. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing. Makalah disajikan dalam Konferensi Bahasa Indonesia; VI. Jakarta: 28 Oktober—2 Nopember 1993
Suharyanto. 1999. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Yogyakarta: Depdikbud

Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi

Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi



Sampai saat ini media pembelajaran interaktif BIPA belum berkembang dengan optimal di Indonesia. Salah satu kendala pengembangan media pembelajaran interaktif adalah kurang dikuasainya teknologi pengembangan media interaktif oleh para pengajar dan pengelola BIPA di Indonesia.
Piranti lunak pengembangan materi pembelajaran yang ada saat ini seperti Course Builder, Visual Basic, atau Dream weaver cukup rumit sehingga hanya dikuasai oleh para pemrogram komputer sedangkan pengelola BIPA pada umumnya hanya menguasai pembelajaran bahasa. Jadi pengembangan materi pembelajaran interaktif dengan komputer kurang optimal.
Pengembangan media pembelajaran BIPA interaktif bisa optimal dengan kerjasama antara programer komputer dengan pengelola program BIPA. Yang lebih ideal adalah seorang pengelaloa BIPA menguasai program komputer.
Tujuan dari lokakarya ini adalah membuat media pembelajaran BIPA secara mudah, bahkan untuk orang yang buta program komputer sekalipun.
Pembuatan media pembelajaran BIPA interaktif ini akan menggunakan piranti lunak presentasi Microsoft Powerpoint 2000, sebuah piranti lunak yang memberikan banyak sekali manfaat bagi pembelajaran bahasa. Dua keuntungan pokok dari piranti lunak ini adalah:
(a) tersedia di semua komputer berprogram Microsoft Office;
(b) dapat dikembangkan oleh orang yang buta program komputer.
Meskipun piranti lunak ini mudah dan sederhana namun dapat memberikan manfaat yang besar bagi pembelajaran bahasa. Piranti lunak ini dapat menampilkan teks, gambar, suara, dan video. Dengan demikian, piranti lunak ini bisa mengakomodasi semua kegiatan pembelajaran bahasa interaktif seperti mendengarkan, membaca, menulis dan juga bermain language games. Tampilan yang dihasilkan dari piranti lunak ini bisa semenarik program yang dibangun dengan piranti lunak yang canggih.

A. Pembelajaran Bahasa
Pembelajaran bahasa asing adalah sebuah proses yang kompleks dengan berbagai fenomena yang pelik sehingga tidak mengherankan kalau hal ini bisa mempunyai arti yang berbeda-beda bagi setiap orang (Ellis, 1994). Pembelajaran ini dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor utama yang berkaitan erat dengan pemerolehan bahasa asing adalah bahasa pembelajar, faktor eksternal pembelajar, faktor internal pembelajar, dan pembelajar sebagai individu.
Bahasa pembelajar adalah salah satu gejala yang banyak diamati para peneliti untuk melihat pemerolehan bahasa asing. Salah satu gejala dari bahasa pembelajar ini misalnya adalah kesalahan. Dengan mengamati kesalahan yang ada dapat dilihat proses pemerolehan bahasa seseorang yang pada gilirannya pendekatan pembelajaran atau pengajaran tertentu dapat diterapkan.
Faktor di luar ataupun di dalam pembelajr sendiri adalah aspek yang tidak kalah pentingnya untuk dapat memahami pemerolehan bahasa. Faktor di luar pembelajar misalnya adalah lingkungan dan interaksi. Dua faktor ini sangat mempengaruhi perkembangan pemerolehan bahasa asing. Sedangkan faktor internal dari pembelajar diantaranya adalah pengaruh dari bahasa pertama atau bahasa lain. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah pembelajar sendiri sebagai seorang individu. Setiap pembelajar tentu mempunyai perbedaan dengan pembelajar lain. Mereka mempunyai strategi pembelajaran yang berbeda.
Media pembelajaran interaktif adalah sebuah media yang dibuat guna memenuhi berbagai kebutuhan pembelajar bahasa asing pada waktu salah satu atau semua faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa kedua ini sulit didapatkan.

B. Media Pembelajaran
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.
Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar mempelajari bahasa asing. Namun demikian tidaklah mudah mendapatkan kelima bentuk itu dalam satu waktu atau tempat.
Tehnologi komputer adalah sebuah penemuan yang memungkinkan menghadirkan beberapa atau semua bentuk stimulus di atas sehingga pembelajaran bahasa asing akan lebih optimal. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Namun kebanyakan pengajar tidak mempunyai kemampuan untuk menghadirkan kelima stimulus itu dengan program komputer sedangkan pemrogram komputer tidak menguasai pembelajaran bahasa.
Jalan keluarnya adalah merealisasikan stimulus-stimulus itu dalam program komputer dengan menggunakan piranti lunak yang mudah dipelajari sehingga dengan demikian para pengajar akan dengan mudah merealisasikan ide-ide pengajarannya.
Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong mahasiswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar.
Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya (Hubbard, 1983). Kreteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu.
Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif (Thorn, 1995). Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga pembelajar bahasa tidak perlu belajar komputer lebih dahulu. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran si pembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan bahasa yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu.
C. Pembelajaran Bahasa dengan Komputer
Komputer telah mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa mulai 1960 (Lee, 1996). Dalam 40 tahun pemakaian komputer ini ada berbagai periode kecenderungan yang didasarkan pada teori pembelajaran yang ada. Periode yang pertama adalah pembelajaran dengan komputer dengan pendekatan behaviorist. Periode ini ditandai dengan pembelajaran yang menekankan pengulangan dengan metode drill dan praktek. Periode yang berikutnya adalah periode pembelajaran komukatif sebagai reaksi terhadap behaviorist. Penekanan pembelajaran adalah lebih pada pemakaian bentuk-bentuk tidak pada bentuk itu sendiri seperti pada pendekatan behaviorist.
Periode atau kecenderungan yang terakhir adalah pembelajaran dengan komputer yang integratif. Pembelajaran integratif memberi penekan pada pengintegrasian berbagai ketrampilan berbahasa, mendengarkan, berbicara, menulis dan membaca dan mengintegrasikan tehnologi secara lebih penuh pada pembelajaran.
Lee merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran (Lee, 1996) Alasan-alasan itu adalah: pengalaman, motivasi, meningkatkan pembelajaran, materi yang otentik, interaksi yang lebih luas, lebih pribadi, tidak terpaku pada sumber tunggal, dan pemahaman global.
Dengan tersambungnya komputer pada jaringan internet maka pembelajar akan mendapat pengalaman yang lebih luas. Pembelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri. Pembelajaran dengan komputer akan memberikan motivasi yang lebih tinggi karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan, permainan dan kreativitas. Dengan demikian pembelajaran itu sendiri akan meningkat.
Pembelajaran dengan komputer akan memberi kesempatan pada pembelajar untuk mendapat materi pembelajaran yang otentik dan dapat berinteraksi secara lebih luas. Pembelajaran pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda.
Di samping kelebihan dan keuntungan dari pembelajaran dengan komputer tentu saja ada kekurangan dan kelemahannaya. Hambatan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran antara lain adalah: hambatan dana, ketersediaan piranti lunak dan keras komputer, keterbatasan pengetahuan tehnis dan teoris dan penerimaan terhadap tehnologi.
Dana bagi penyediaan komputer dengan jaringannya cukup mahal demikian untuk piranti lunak dan kerasnya. Media pembelajaranpun kurang berkembang karena keterbatasan pengetahuan tehnis dari pengajar atau ahli pengajaran dan keterbatasan pengetahuan teoritis pembelajaran bahasa dari para pemrogram.

D. Microsoft Powerpoint 2000
Microsoft Powerpoint 2000 adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer seperti dikemukakan oleh Lee.
Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hanbatan pengetahuan tehnis dan teori. Pengajar atau ahli bahasa dapat membuat sebuah program pembelajaran bahasa tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu.
Meskipun program aplikasi ini sebenarnya merupakan program untuk membuat presentasi namun fasilitas yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program pembelajaran bahasa. Program yang dihasilkanpun akan cukup menarik. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet.
1. Memasukkan Teks, Gambar, Suara dan Video
Fasilitas yang penting dari program apliokasi ini adalah fasilitas untuk menampilkan teks. Dengan fasilitas ini pembuat program bisa menampilkan berbagai teks untuk berbagai keperluan misalnya untuk pembelajaran menulis, membaca atau pembelajaran yang lain.
Cara memasukan teks ke dalam program aplikasi ini cukuip sederhana. Sesudah pemakai menghidupkan komputer dan masuk program Power point 2000 dan sesudah memilih jenis tampilan layar maka pemakai dapat menekan menu insert sesudah itu akan muncul berbagai pilihan. Salah satu pilihan itu adalah insert textbox. Tekan menu ini dan akan muncul kotak teks di dalam tampilan presentasi. Langkah berikutnya adalah mengkopi teks yang ingin dimasukkan dan kemudian menempelkannya (paste) pada kotak yang tersedia. Apabila tidak ingin mengkopi bisa juga menulis langsung dalan kotak teks yang sudah tersedia.
Untuk memasukan gambar langkahnyapun sama dengan cara memasukkan teks. Pertama tekan menu insert sesudah itu pilih menu insert picture. Sesudah menu ini dipilih akan muncul dua pilihan from file ... dan from clip art... Apabila pemrogram ingin memasukkan gambar dari file maka tekan pilihan pertama dan apabila ingin memakai gambar dari clip art yang sudah ada di komputer maka tekan pilihan yang kedua.
Suara dan video merupakan dua fasilitas yang disediakan oleh Microsoft Powerpoint 2000 yang sangat mendukung pemrograman pembelajaran bahasa. Untuk memasukkan video tekan menu insert dan selanjutnya tekan menu movies and sounds. Maka akan muncul dua pilihan untuk masing-masing. Untuk suara (sounds) akan muncul sounds from file dan sounds from Gallery demikian pula untuk movies akan muncul pilihan Movies from file atau Movies from Gallery. Pemrogram tinggal memilih jenis file yang akan dimasukkan.
2. Membuat tampilan menarik
Tampilan yang manarik akan meningkatkan minat dan motivasi pembelajar untuk menjalankan program. Ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk membuat tampilan menarik. Fasilitas yang pertama adalah background. Background akan memperindah tampilan program. Ada beberapa jenis background yang ditawarkan, yang pertama adalah dengan memberi warna, yang kedua dengan memberi tekstur dan yang ketiga adalah memasang gambar dari file sendiri.
Langkah pemasangan background adalah dengan menekan menu format dan kemudian menekan menu background. Sesudah itu akan muncul pilihan background fill, more color dan fill effects. Apabila pemrogram ingin memilih warna yang sudah ada maka tekan apply, apabila ingin memilih warna sendiri tekan more color, pilih warna dan tekan apply, dan apabila ingin memberi tekstur atau gambar sendiri maka tekan fill effects, pilih tekstur atau gambar dan tekan apply.
Fasilitas lain yang akan membuat tampilan lebih menarik adalah fasilitas animasi. Dengan fasilitas ini gambar-gambar dan teks akan muncul ke layar dengan cara tampil yang bervariasi. Fasilitas animasi ini memungkinkan gambar atau objek lain tampil dari arah yang berbeda atau dengan cara yang berbeda. Objek bisa melayang dari atas, bawah, kanan, kiri, atau dari sudut. Objek juga bisa muncul dari tengah atau dari pinggir. Dengan sedikit kreatifitas fasilitas ini bisa menghasilkan language games yang menarik.
Pembuatan animasi dimulai dengan memilih objek yang akan dibuat animasi dengan cara mengklik objek itu. Sesudah itu pilih menu Slide Show dan kemudian memilih menu Custom Animation. Sesudah menekan menu itu akan muncul berbagai pilihan diantaranya order and timing untuk mengatur urutan dan waktu tampil ke layar dan juga pilihan effects untuk mengatur efek yang diinginkan.
3. Membuat Hyperlink
Fasilitas ini sangat penting dan sangat mendukung pembelajaran bahasa karena dengan hyperlink program bisa terhubung ke program lain atau ke jaringan internet. Hyperlink atau hubungan dalam satu program akan memungkinkan programer memberikan umpan balik secara langsung terhadap proses pembelajaran. Hubungan dengan program lain akan memperkaya fasilitas yang mendukung pembelajaran dan hubungan dengan internet akan membuka berbagai kemungkinan pembelajaran yang lebih luas, pribadi dan otentik.
Langkah pembuatan hyuperlink adalah dengan memilih objek yang akan kita link ke program lain atau internet. Sesudah kita memilih objek kita mengklik menu insert dan kemudian mengklik menu hyperlink maka akan muncul dialog box dan kemudian kita menuliskan alamat yang dituju misalnya sebuah file atau sebuah situs web dan kemudian mengklik OK maka objek itu akan tersambung ke alamat yang ditulis. Cara yang kedua adalah melalui menu slide show dan kemudian menekan action settings, sesudah itu akan muncul dialog box. Dengan mengisikan alamat dan mengklik OK maka objek akan tersambung ke alamat yang diinginkan.
Fasilitas-fasilitas diatas adalah fasilitas utama dalam pengembangan materi pembelajaran bahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000. Fasilitas yang lain adalah fasilitas tambahan untuk membuat tampilan program lebih menarik dan mudah digunakan.

E. Mengembangkan Pembelajaran Ketrampilan Berbahasa dengan Microsoft Powerpoint 2000

Pengembangan materi pembelajaran khususnya mendengarkan dan membaca dapat dikembangkan secara mudah dengan program ini. Materi pembelajaran bahasa yang dihasilkan oleh program aplikasi inipun cukup menarik, khususnya materi pembelajaran yang berupa permainan.
1. Membaca
Fasilitas menampilkan teks dalam program aplikasi ini memungkinkan pembuatan materi pembelajaran ketrampilan membaca dengan mudah. Pembuat program bisa memasukan teks dalam slide pertama, kemudian memasukan latihan dlam slide kedua dan umpan balik latihan dalam slide berikutnya. Untuk memperindah tampilan teks-teks bacaan juga bisa dilengkapi dengan berbagai gambar. Apabila pembuat ingin memberikan materi pembelajaran yang lebih otentik maka bisa diberikan satu alamat situs web. Pembelajar akan membaca teks di situs itu kemudian kembali ke program dan mengerjakan latihan yang ada dan kemudian melihat slide umpan balik.
2. Mendengarkan
Dengan adanya fasilitas memasukkan suara dan video maka pembelajaran ketrampilan mendengarkan mempunyai lebih banyak pilihan variasi. Pemrogram bisa membuat bahan pembelajaran dengan video ataupun audio. Seperti halnya pada membaca materi pembelajaran, latihan-latihan dan umpan balik dapat diberikan di slide-slide yang berbeda. Fasilitas hyperlink yang memungkinkan program dihubungkan dengan jaringan internet akan memperkaya penyediaan bahan pembelajaran.
3. Menulis dan Berbicara
Keterbatasan program aplikasi ini adalah pada umpan balik yang berupa tulisan. Program ini tidak mempunyai fasilitas yang memungkinkan pembelajar memberikan umpan balik dalam bentuk tulisan atau suara. Namun demikian keterbatasan program dalam menyediakan fasilitas untuk umpan balik suara ini bisa diatasi dengan strategi pembelajaran gabungan, yaitu menggabungkan pembelajaran mandiri dan berpasangan. Sesudah menjalankan program komputer pembelajar diberi tugas untuk berinteraksi dengan pembelajar yang lain.
Sedangkan untuk mengatasi keterbatasan dalam memberika umpan balik berupa tulisan dapat diatasi dengan mempergunakan fasilitas hyperlink. Pada waktu ada tugas menulis pembelajar dihubungan dengan program yang mempunyai fasilitas menulis seperti Microsoft Word misalnya.

F. Membuat Permainan
Fasilitas-fasilitas yang ada diatas juga sangat mendukung pengembangan bahan pembelajaran yang berupa permainan. Permainan yang ketrampilan yang menyerupai hangman atau mine sweep dapat dikembangkan dengan program aplikasi ini demikian pula permainan yang mengandalkan kecepatan.
Tiap-tiap permainan yang dibuat tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Permainan penyapu ranjau (mine sweep) misalnya dapat dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran kosa kata, sistem verba bahasa Indonesia atau pembelajaran kata depan.

G. Keterbatasan Program
Selain keunggulan yang telah dikemukakan program aplikasi ini mempunyai beberapa keterbatasan. Keterbatasan utamanya ialah pembelajar tidak bisa berinteraksi langsung untuk menuliskan komentar ataupun menjawab pertanyaan yang ada. Fasilitas yang ada hanya memfasilitasi tanggapan dalam bentuk pilihan.
Namun dengan keterbatasan ini program ini tetap menawarkan fasilitas yang cukup untuk membuat sebuah program pembelajaran bahasa dengan mudah dengan hasil yang menarik. Selamat mencoba.


References

Bovee, Courland. 1997. Business Communication Today, Prentice Hall: New York.
Brown, H. Douglas. 1994. Principles of Language Learning and Teaching, Prentice Hall Regents: New Jersey.
Davis, Ben. 1991. Teaching with Media, a paper presented at Technology and Education Conference in Athens, Greece.
Elliot, Stephen N et al,. 1996. Educational Psychology, Brown and Benchmark: Dubuque, Iowa.
Hubbard, Peter et al. 1983. A Training Course for TEFL, Oxford University Press: Oxford.
Hunter, Lawrence. 1996. CALL: Its Scope and Limits, The Internet TESL Journal, Vol. II, No.6, June 1996, http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/
Idris, Nuny S. 1999. Ragam Media Dalam Pembelajaran BIPA. A Paper presented at KIPBIPA III, Bandung.
Jonassen, David H. 1996. Computer as a Mindtools for Schools. Prentice Hall. New Jersey.
Kemp, Ferrod E. 1980. Planning and Producing Audiovisual Materials. Harper and Row: New York.
Lee, Kwuang-wu. 2000. English Teachers’ Barriers to the Use of Computer-assisted Language Learning. The Internet TESL Journal, Vol. VI, No. 12, December 2000. http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/
Schocolnik, Miriam. 1999. Using Presentation Software to Enhance Language Learning. The Internet TESL Journal, Vol. V, No.3, March 1999, http:/www.aitech.ac.jp/~iteslj/

SILABUS MK MEDIA PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

MK 503 Media Pembelajaran Bahasa Indonesia

1. Identitas Mata Kuliah :

Nama Mata Kuliah : Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Nomor Kode : MK
Jumlah SKS : 3
Semester : 3
Kelompok Mata Kuliah : MKKP
Program Studi/Program : Pendidikan Bahasa Indonesia/S1
Status Mata Kuliah : Lanjut/wajib
Prasyarat : Perencanaan Pembelajaran
Dosen : Ridwan Demmatadju
Tujuan

Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu mengenali latar belakang, dasar-dasar dan prinsip-prinsip strategi belajar mengajar serta mampu membuat media pembelajaran Bahasa Indonesia dan mempaktekannya dalam latihan mengajar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA

2. Deskripsi Isi

Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu mengenali latar belakang, dasar-dasar dan prinsip-prinsip strategi belajar mengajar serta mampu membuat media pembelajaran Bahasa Indonesia dan mempraktekannya dalam latihan mengajar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Memberikan bekal kepada mahasiswa agar dapat memiliki kompetensi mengajar di depan kelas sebagai guru, berupa teori, dasar-dasar, dan prinsip-prinsip serta latihan mengajar

3. Pendekatan Pembelajaran

Ekspositori dan inkuiri
• Metode : ceramah, diskusi, analisis kasus, problem solving
• Tugas : observasi ke sekolah
• Media : Whiteboard, LCD, Komputer

4. Evaluasi

Keberhasilan mahasiswa dalam perkuliahan ini ditentukan oleh prestasi yang bersangkutan dalam :
• Partisipasi kegiatan kelas
• Pembuatan dan penyajian tugas
• UTS dan UAS



5. Rincian Materi Perkuliahan Tiap Pertemuan

Pertemuan 1 : Penjelasan umum perkuliahan, garis besar materi perkuliahan, teknis perkuliahan, membahas silabus perkuliahan
Pertemuan 2 : Pengertian Media Pembelajaran Bahasa Indonesia , Prinsip Media Pembelajaran Bahasa Indonesia Manfaat Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pertemuan 3 : Pengertian Kurikulum berbasis kompetensi isi kurikulum
Pertemuan 4 : Strategi Pelaksanaan organisasi dan pengembangannya
Pertemuan 5 : Pengertian KTSP: Isi Kurikulum, Strategi Pelaksanaan, Pengorganisasian Kurikulum, Komponen Interaksi Belajar Mengajar, Mengidentifikasi komponen interaksi belajar
Pertemuan 6 : Konsep silabus dan SAP: Pengertian, manfaat, peran, dan fungsi, Praktek pembuatan silabus, Penugasan pembuatan silabus.
Pertemuan 7 : Pengertian dan konsep keterampilan mengajar: Ruang lingkup keterampilan mengajar, Mempraktekan keterampilan mengajar
Pertemuan 8 : UTS
Pertemuan 9 : Nilai dan manfaat media pembelajaran Jenis dan kriteria memilih media pembelajaran
Fungsi dan peran media pembelajaran
Pertemuan 10 : Klasifikasi media pembelajaran, Jenis-jenis media pembelajaran Karakteristik media pembelajaran
Pertemuan 11 : Relasi dalam pesan visual: Pesan visual dalam proses belajar mengajar
Pertemuan 12 : Media grafis sebagai media visual
Pertemuan 13 : Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran, Pengembangan media pembelajaran, Memilih media pembelajaran yang tepat.
Pertemuan 14 : Pengertian media visual dan audio, Jenis-jenis media visual dan audio, Contoh media visual dan audio, Praktek media visual dan audio.
Pertemuan 15 : Teknik menggunakan lingkungan, Jenis lingkungan belajar, Langkah dan prosedur penggunaan media lingkungan
Pertemuan 16 : UAS

6. Daftar Buku

Sudirwo, Daeng. (2002). Kurikulum Dan Pembelajaran Dalam Rangka Otonomi Daerah. Bandung: CV Adira.
Hamzah, B. Uno (2006). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Sudjana. (2005). Media Pengajaran. Sinar Baru Algensindo
Boediono. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur balitbang, depdikbud.
Hasan S. (2002). Pelaksanaan Kurikulum 1988 Evaluasi kurikulum. Jakarta : Depdikbud.
Hasan S Hamid. (1988). Evaluasi Kurikulum. Jakarta : Depdikbud.
E. Mulyasa. (2006). Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Ishak Abdulhak&wina sanjaya.(1995). Media Pendidikan (Suatu Pengantar ), Pusat Pelayanan Dan Pengembangan Media Pendidikan. IKIP Bandung.
Ness.(1994). Curriculum Standard Of Social Studies,Washington DC. National Council For The Social Studies.
UURI No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: BP. Cipta jaya.
PP No. 19 tahun 2005
Hasan S. (2002). Pengembanagn Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Dikmenum. Pedoman Umum Pengembangan Silabus. Jakarta; Direktorat Jenderal Didasmen.
Boediono. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: puskur balitbang, depniknas.
Nana syaodih. (1997). Pengembangan Kurikulum, Teori, Dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Bobbi De Porter,Dkk. (2000). Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
Bobbi de porter, dkk. (2003). Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
UURI No. 14 tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen.
PP No. 19 Tahun 2005

Mata Kuliah Media Pengajaran Bahasa Indonesia

Media Pembelajaran
1.1 Pengertian
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang” sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media dapat diartikan sebagai suatu bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT, 1977:162).
Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan istilah audio visual aids (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut instructional materials (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya, sekarang muncul istilah e-Learning. Huruf “e” merupakan singkatan dari “elektronik”. Artinya media pembelajaran berupa alat elektronik, meliputi CD Multimedia Interaktif sebagai bahan ajar offline dan Web sebagai bahan ajar online.
Berikut ini beberapa pendapat para ahli komunikasi atau ahli bahasa tentang pengertian media yaitu
(1) orang, material, atau kejadian yang dapat menciptakan kondisi sehingga memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterapilan, dan sikap yang baru, dalam pengertian meliputi buku, guru, dan lingkungan sekolah (Gerlach dan Ely dalam Ibrahim, 1982:3)
(2) saluran komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan antara sumber (pemberi pesan) dengan penerima pesan (Blake dan Horalsen dalam Latuheru, 1988:11)
(3) komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada pembelajar bisa berupa alat, bahan, dan orang (Degeng, 1989:142)
(4) media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan pengirim pesan kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang pildran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan efektif dan efesien sesuai dengan yang diharapkan (Sadiman, dkk., 2002:6)
(5) alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi, yang terdiri antara lain buku, tape-recorder, kaset, video kamera, video recorder, film, slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer (Gagne dan Briggs dalam Arsyad, 2002:4)
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media pengajaran adalah bahan, alat, maupun metode/teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukatif antara guru dan anak didik dapat berlangsung secara efektif dan efesien sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah dicita-citakan.

1.2 Klasifikasi
Dari segi perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua kategori luas, yaitu pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir (Seels & Glasgow dalam Arsyad, 2002:33). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pilihan media tradisional dapat dibedakan menjadi (1) visual diam yang diproyeksikan, misal proyeksi opaque (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (2) visual yang tidak diproyeksikan, misal gambar, poster, foto, charts, grafik, diagram, pemaran, papan info, (3) penyajian multimedia, misal slide plus suara (tape), multi-image, (4) visual dinamis yang diproyeksikan, misal film, televisi, video, (5) cetak, misal buku teks, modul, teks terprogram, workbook, majalah ilmiah/berkala, lembaran lepas (hand-out), (6) permainan, misal teka-teki, simulasi, permainan papan, dan (7) realia, misal model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka). Sedangkan pilihan media teknologi mutakhir dibedakan menjadi (1) media berbasis telekomunikasi, misal teleconference, kuliah jarak jauh, dan (2) media berbasis mikroprosesor, misal computer-assistted instruction, permainan komputer, sistem tutor intelejen, interaktif, hypermedia, dan compact (video) disc.

1.3 Tujuan
Penggunaan media pengajaran sangat diperlukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam pembelajaran membaca puisi. Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan penggunaan media pengajaran adalah (1) agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna dan berdaya guna, (2) untuk mempermudah bagi guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi kepada anak didik, (3) untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik, (4) untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik, (5) untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik. Sedangkan Sudjana, dkk. (2002:2) menyatakan tentang tujuan pemanfaatan media adalah (1) pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi, (2) bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami, (3) metode mengajar akan lebih bervariasi, dan (4) siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan penggunaan media adalah (1) efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar, (2) meningkatkan motivasi belajar siswa, (3) variasi metode pembelajaran, dan (4) peningkatan aktivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

1.4 Manfaat
Secara umum manfaat penggunaan media pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu (1) media pengajaran dapat menarik dan memperbesar perhatian anak didik terhadap materi pengajaran yang disajikan, (2) media pengajaran dapat mengatasi perbedaan pengalaman belajar anak didik berdasarkan latar belakang sosil ekonomi, (3) media pengajaran dapat membantu anak didik dalam memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara lain, (5) media pengajaran dapat membantu perkembangan pikiran anak didik secara teratur tentang hal yang mereka alami dalam kegiatan belajar mengajar mereka, misainya menyaksikan pemutaran film tentang suatu kejadian atau peristiwa. rangkaian dan urutan kejadian yang mereka saksikan dan pemutaran film tadi akan dapat mereka pelajari secara teratur dan berkesinambungan, (6) media pengajaran dapat menumbuhkan kemampuan anak didik untuk berusaha mempelajari sendiri berdasarkan pengalaman dan kenyataan, (7) media pengajaran dapat mengurangi adanya verbalisme dalain suatu proses (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka) (Latuheru, 1988:23-24).
Sedangkan menurut Sadiman, dkk. (2002:16), media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya (1) obyek yang terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar, film, atau model, (2) obyek yang kecil bisa dibantu dengan menggunakan proyektor, gambar, (3) gerak yang terlalu cepat dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography, (4) kejadian atau peristiwa di masa lampau dapat ditampilkan dengan pemutaran film, video, foto, maupun VCD, (5) objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain, dan (6) konsep yang terlalu luas (misalnya gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan lain-lain.
Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar perlu direncanakan dan dirancang secara sistematik agar media pembelajaran itu efektif untuk digunakan dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa pola pemanfaatan media pembelajaran, yaitu (1) pemanfaatan media dalam situasi kelas atau di dalam kelas, yaitu media pembelajaran dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu dan pemanfaatannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas, (2) pemanfaatan media di luar situasi kelas atau di luar kelas, meliputi (a) pemanfaatan secara bebas yaitu media yang digunakan tidak diharuskan kepada pemakai tertentu dan tidak ada kontrol dan pengawasan dad pembuat atau pengelola media, serta pemakai tidak dikelola dengan prosedur dan pola tertentu, dan (b) pemanfaatan secara terkontrol yaitu media itu digunakan dalam serangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan untuk dipakai oleh sasaran pemakai (populasi target) tertentu dengan mengikuti pola dan prosedur pembelajaran tertentu hingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut, (3) pemanfaatan media secara perorangan, kelompok atau massal, meliputi (a) pemanfaatan media secara perorangan, yaitu penggunaan media oleh seorang saja (sendirian saja), dan (b) pemanfaatan media secara kelompok, baik kelompok kecil (2—8 orang) maupun kelompok besar (9—40 orang), (4) media dapat juga digunakan secara massal, artinya media dapat digunakan oleh orang yang jumlahnya puluhan, ratusan bahkan ribuan secara bersama-sama.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa seorang guru
dalam memanfaatkan suatu media untuk digunakan dalarn proses belajar mengajar harus memperhatikan beberapa hal, yaitu (1) tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (2) isi materi pelajaran, (3) strategi belajar mengajar yang digunakan, (4) karakteristik siswa yang belajar. Karakteristik siswa yang belajar yang dimaksud adalah tingkat pengetahuan siswa terhadap media yang digunakan, bahasa siswa, artinya isi pesan yang disampaikan melalui media harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan berbahasa atau kosakata yang dimiliki siswa sehingga memudahkan siswa dalam memahami isi materi yang disampaikan melalui media. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan jumlah siswa. Artinya media yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan jumlah siswa yang belajar.

1.5 Prinsip-prinsip Pemilihan Media
Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan seorang guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan adanya beraneka ragam media yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Rumampuk (1988:19) bahwa prinsip-prinsip pemilihan media adalah (1) harus diketahui dengan jelas media itu dipilih untuk tujuan apa, (2) pemilihan media hams secara objektif, bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan atau hiburan. pemilihan media itu benar-benar didasarkan atas pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa, (3) tidak ada satu pun media dipakai untuk mencapai semua tujuan. Setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk menggunakan media dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya dipilih secara tepat dengan melihat kelebihan media untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu, (4) pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar dan materi pengajaran, mengingat media merupakan bagian yang integral dalam proses belajar mengajar, (5) untuk dapat memilih media dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri dan masing-masing media, dan (6) pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan. Sedangkan Ibrahim (1991:24) menyatakan beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk memilih media pembelajaran, antara lain (1) sebelum memilih media pembelajaran, guru harus menyadari bahwa tidak ada satupun media yang paling baik untuk mencapai semua tujuan. masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahan. penggunaan berbagai macam media pembelaiaran yang disusun secara serasi dalam proses belajar mengajar akan mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran, (2) pemilihan media hendaknya dilakukan secara objektif, artinya benar-benar digunakan dengan dasar pertimbangan efektivitas belajar siswa, bukan karena kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan, (3) pernilihan media hendaknya memperhatikan syarat-syarat (a) sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (b) ketersediaan bahan media, (c) biaya pengadaan, dan (d) kualitas atau mutu teknik. Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran adalah (1) media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran, metode mengajar yang digunakan serta karakteristik siswa yang belajar (tingkat pengetahuan siswa, bahasa siswa, dan jumlah siswa yang belajar), (2) untuk dapat memilih media dengan tepat, guru harus mengenal ciri-ciri dan tiap tiap media pembelajaran, (3) pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada siswa yang belajar, artinya pemilihan media untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa, (4) pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat siswa belajar.
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diturunkan sejumlah faktor yang mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran yang dapat dipakai sebagai dasar dalam kegiatan pemilihan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah (1) tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, (2) karakteristik siswa atau sasaran, (3) jenis rangsangan belajar yang diinginkan, (4) keadaan latar atau lingkungan, (5)kondisi setempat, dan (6) luasnya jangkauan yang ingin dilayani (Sadiman 2002:82).
Pemilihan media pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran berbasis kompetensi membaca puisi juga harus berpedornan pada prinsip-prinsip pemilihan media yang dilatari oleh sejumlah faktor di atas. Pemilihan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan tujuan instruksional membaca puisi yang akan dicapai, isi materi pelajaran pembelajaran membaca puisi, metode mengajar yang akan digunakan, dan karakteristik siswa. Sehubungan dengan karakteristik siswa, guru harus memiliki pengetahuan tentang kemampuan intelektual siswa usia SMA, agar guru dapat memilih media yang benar-benar sesuai dengan siswa yang belajar. Ketepatan dalam pemilihan media akan dapat meningkatkan mutu proses belajar mengajar membaca puisi sehingga guru dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

1.6 Karakteristik Audien
Seorang guru terlebih dahulu harus mengenal/memahami karakter siswanya dengan baik agar dalam proses belajar mengajar dapat memilih media yang baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Anak didik/siswa dapat diidentifikasi melalui 2 (dua) tipe karakteristik, yaitu karakteristik umum dan karakteristik khusus. Karakteristik umum meliputi umur, jenis kelamin, jenjang/tingkat kelas, tingkat kecerdasan, kebudayaan ataupun faktor sosial ekonomi. Karakteristik khusus meliputi pengetahuan, kemampuan, serta sikap mengenai topik atau materi yang disajikan/diajarkan. Hal ini penting karena langsung berpengaruh dalam hal pengambilan keputusan untuk memilih media dan metode mengajar (Latuheru, 1998:3).
Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu, sebaliknya tanpa minat tidak mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam belajar erat kaiatannya dengan sifat-sifat siswa, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif, seperti motivasi, rasa percaya diri, dan minatnya (Usman, 2002:27).
Minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keefektifan belajar siswa. Jadi, unsur efektif merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran (James dalam Usman, 2002:27).

Kamis, 28 Mei 2009

Bedah Rumah Belum Selesai




SISWA SMAN 1 LATAMBAGA BELAJAR KOMPUTER

Potret Keluarga Ridwan Demmatadju


KANTOR BUPATI KOLAKA

MENCARI SEKOLAH BERMUTU


Masih ingat iklan televisi yang sering diulang-ulang. “Suzuki, Inovasi tiada henti.” Itulah iklannya. Apa yang terpikirkan pada iklan tersebut? Suzuki selalu melakukan inovasi. Suzuki senantiasa berinovasi. Inovasi, itulah Suzuki!. Tulisan ini tidak bermaksud mempromosikan Suzuki. Tulisan ini tidak hadir untuk maksud promosi tersebut. Justru, dari sebuah kata “inovasi” Suzuki banyak dikenal orang. Jika Suzuki tidak melakukan inovasi, maka Suzuki akan mati. Kira-kira begitulah jika ditafsirkan.

Analogi dari iklan tersebut adalah “Sekolah, inovasi tiada henti.” Mengapa sekolah harus melakukan inovasi?” Sekolah merupakan sistem organisasi yang kompleks. Didalamnya terdapat beraneka ragam siswa. Bermacam-macam pola pendekatan guru kepada siswa. Setiap karyawan sekolah punya keinginan yang berbeda-beda. Ada dinas pendidikan dengan para pengawas dan pejabat yang terkait dengan keberadaan sekolah. Ada Yayasan bagi sekolah swasta sebagai penyelenggara sekolah. Kesemua ragam tersebut terjalin dalam komunikasi yang namanya sekolah.

Ketika sekolah tidak mampu memaknai kehadirannya, yang terjadi adalah sekolah telah gagal memberikan yang terbaik kepada setiap elemennya. Yang paling menderita adalah para siswa. Siswa terbelenggu. Potensinya tidak berkembang. Masa depan siswa terbayang menjadi terbengkalai. Tidak ada lagi cerita hebat pada siswa yang berprestasi. Teriakan sekolah telah gagal membahana. Tidak ada lagi lagu anak-anak yang mendendangkan Himne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Sebab guru pun telah gagal mengembangkan potensi kecerdasan anak.

Padahal para siswa dikarunia Yang Mahakuasa berbagai kecerdasan. Yang oleh Howard Gardner disebut kecerdasan majemuk. Semua anak mempunyai kelebihan. Semua anak punya yang namanya kecerdasan majemuk. Ada cerdas bahasa. Ada cerdas matematika. Ada cerdas musik. Ada pula cerdas tubuh. Empat kecerdasan lain juga ada pada siswa seperti cerdas spasial, cerdas natural, cerdas bergaul, dan cerdas diri.

Setiap kecerdasan tersebut memiliki karakteristiknya masing-masing. Setiap siswa akan melakukan kegetian-kegiatan tertentu yang memperlihatkan kecerdasan terkuatnya. Kegiatan seperti menulis cerita dan esai, menceritakan lelucon, cerita, plesetan, membaca puisi, menggunakan kosakata luas, bermain word game dan menggunakan kata untuk menggambarkan sebuah citra merupakan kegiatan yang mencerminkana cerdas bahasa.

Guru dapat mendorong siswa yang demikian ke dalam pengembangan kecerdasan berbahasanya seperti mendorong penggunaan kata-kata yang tidak lazim, melibatkan siswa dalam debat dan presentasi lisan, menunjukkan bagaimana puisi dapat menyampaikan emosi dan sebagainya. Kondisi seperti inilah yang kemudian akan melahirkan inovasi. Melahirkan hal-hal baru yang berbeda dari sebelumnya. Menemukan sesuatu yang membuat “AHA!” Mewujudkan ide-ide baru atau produk-produk karya baru yang belum pernah ada. Mengadakan pembaharuan dari yang sudah ada.

Sekolah jika tidak ingin gagal, ia harus melakukan inovasi. Inovasi ini akan melahirkan arah pengembangan sekolah. Ibarat mata angin, ia menunjukkan kepada nelayan apa yang harus diperbuatnya. Bagaikan seorang nakhoda, ia akan menjadikan arah angin yang berhembus sebagai tanda penunjuk apa yang sedang dan akan terjadi pada lautan yang sedang diarunginya.

Inovasi akan melahirkan para siswa yang berkembang potensinya, berharga kehadirannya, dan membuat para guru dan orang tua senantiasa tersenyum bahagia. Tidak ada karya yang dihasilkan melainkan ia adalah mewakili kecerdasan siswa. Semua karya dan kemampuan siswa diapresiasi dengan hati oleh guru.

Tidak ada kata siswa yang gagal lahir dari sekolah yang menerapkan inovasi-inovasi. Inovasi sekolah tidak akan berhenti untuk mencerdaskan setiap siswa dan mengukuhkan keyakinannya kepada Allah yang Mahakuasa, pencipta alam semesta. Inovasi menjadi tradisi sekolah. Semua elemen bergerak. Semua komponen berkarya. Sekolah inilah yang dinamakan sekolah inovatif.

Sekolah inovasi akan mengembangkan lima fokusnya. Lima fokus ini akan mendorong sekolah untuk melahirkan inovasi-inovasi.

Melaksanakan Manajemen Barbasis Sekolah secara konsisten

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah ilmu bagus dalam mengelola sekolah secara lebih baik. School based management. Ada lima kata kunci keberhasilan MBS ini dilaksanakan : transparansi, kerjasama, kemandirian, akuntabilitas, dan partisipasi. MBS mampu mendorong sekolah untuk menyusun dan melaksanakan program-program sekolah yang didasarkan pada kondisi objektif sekolah dan mampu menumbuhkan iklim kerja yang kondusif. Tidak jaminan bahwa begitu MBS diterapkan, akan berdampak pada peningkatan mutu sekolah. Justru, MBS memerlukan perubahan pola pikir, budaya kerja dan kultur sekolah. MBS lebih menekankan pada inovasi manajemen sekolah. Inovasi manajemen sekolah yang awalnya tertutup, serba menunggu, dan miskin kreativitas berubah menjadi keterbukaan manajemen, iklim kerja yang baik, kaya kreativitas, dan terjalin kerjasama sinergis antara semua warga sekolah sehingga peningkatan mutu di sekolah menjadi berkelanjutan, tiada henti.

Mengembangkan inovasi pembelajaran

Pernah suatu hari diadakan pelatihan kepada 100 orang dari para siswa Sekolah Menengah Industri Pariwisata di Cibinong, instruktur memberikan tugas kepada peserta untuk menggambar bebas. Setelah waktu yang telah ditentukan usai, Instruktur berkata, “Coba perlihatkan gambarmu! Ternyata sungguh mengagetkan hanya ada 3 orang yang menggambar bukan pemandangan. Sisanya serentak menggambar pemandangan. Yang lebih mengherankan, ternyata gambar pemandangannya mirip : 2 gunung, di tengah-tengahnya matahari, di sekelilingnya ada sawah dan satu jalan. Apa yang kemudian dapat kita lihat? Bisa jadi kasuistik ini menggejala pada para siswa kita. Boleh dicoba. Yang kemudian terbetik adalah kegagalan dalam proses membangun kreativitas belajar. Pembelajaran yang ada monoton. Pembelajaran yang ada tidak bervariasi. Pembelajaran yang diberikan menumpulkan kreativitas. Menjauhkan dari kata inovasi.

Seharusnya inovasi pembelajaran tidak boleh berhenti pada dimensi pembelajaran. Jika berhenti, ia akan mati. Pembelajaran yang monoton tidak akan menimbulkan kegairahan dan spirit perubahan bagi siswa. JIka inovasi identik dengan penambahan jam belajar, itu keliru. Inovasi pembelajaran dilakukan pada tataran menumbuhkan efektivitas hasil bukan pada penambahan jam belajar. Inovasi pembelajaran dilakukan terhadap metode atau strategi pembelajaran yang dilakukan seperti : student centered, reflective learning, active learning, enjoyble and joyful learning, cooperative learning, quantum learning, learning revolution, dan contextual learning. Inovasi pembelajaran tidak hanya yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan kesiswaan seperti bakti sosial, lomba karya tulis, supercamp, lomba olahraga dan kesenian, berbagai pentas kreativitas juga merupakan inovasi pembelajaran. Berbagai inovasi pembelajaran dapat dilahirkan. Namun tetap bermuara pada peningkatan hasil belajar baik yang akademik maupun nonakademik.

Mengembangkan lingkungan sekolah yang kondusif.

Jika di lorong-lorong sekolah terdapat majalah dinding penuh dengan kreasi siswa yang dipajang. Ditata menarik. Penuh warna warni. Guru dan siswa membaca dan menulis dalam kreasinya masing-masing. Dipelihara dari kebersihannya. Apa yang akan dilakukan oleh siswa baru? Dia akan membaca membaca majalah dinding itu dan secara perlahan akan ikut membuat tulisan agar dapat dipajang juga seperti tulisan yang dilihat dan dibacanya.

Apabila sekolah mempunyai perpustakaan, suasananya di perpustakaan sejuk, buku-buku tertata rapi, meja dan kursi tertata dengan setting belajar, dan disitu sudah banyak orang yang sedang asyik membaca, apa yang akan kita lakukan?

Terhadap pertanyaan itu, pada umumnya kita akan menjawab:”Ya, kita akan terdorong untuk ikut membaca. Bahkan akan sungkan saat berjalan dengan sepatu bersuara. Apalagi mulutnya bernyayi.

Dua pertanyaan dan jawaban di atas menunjukkan bahwa siswa akan terdorong untuk ikut membaca atau menulis karena situasi di lorong-lorong sekolah dan di perpustakaan menyenangkan dan kebanyakan guru dan siswa membaca dan menulis. Kondisi itu sedikit banyak memperlihatkan sekoloah sebagai bentuk mini dari komunitas belajar dapat ditumbuhkembangkan. Lingkungan sekolah baik fisik maupun sosial harus dapat mendorong komunitas siswa untuk selalu dan selalu meningkatkan kegiatan belajar. Demikian juga, dalam konteks sosial, kepala sekolah, guru, termasuk siswa secara bersama-sama berusaha menumbuhkan kondusivitas sosial untuk kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain, penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif dapat memunculkan berbagai inovasi kegiatan belajar-mengajar sehingga komunitas belajar siswa dapat diarahkan pada optimalisasi prestasi siswa dan sekolah.

Jangan sampai yang muncul adalah siswa stress dengan sekolah. Ketika M&M/Mars menyurvei remaja usia 12-17 tahun tentang penyebab stress di dalam kehidupan mereka, inilah yang mereka katakan:

* Mengikuti ujian masuk perguruan tinggi SAT dan ACT (59%)
* Masuk perguruan tinggi (54%)
* Mencari pekerjaan setelah menyelesaikan sekolah menengah atas atau perguruan tinggi (50%)
* Sekolah (40%)

(Minneapolis StarTribune, 12 Mei 1998 dalam Peter L Benson : 2007: 406)

Jadi sekolah berpotensi sebagai penyebab siswa stress. Sekolah harus mengetahui apa yang diinginkan oleh siswa dalam kehidupan mereka. Sekolah berusaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif. Satu lagi fakta. Ketika 1000 siswa dari rentang 13-17 tahun diminta untuk menyebutkan satu hal yang paling mereka inginkan dari kehidupan mereka, inilah yang mereka katakan :

Apa ? Menurut siswa ?

Kebahagiaan 27.7%

Umur panjang dan menikmati hidup 15.9%

Menikah/berkeluarga 9.3%

Keuangan yang berhasil 7.8%

Karier yang ebrhasil 7.6%

Kepuasan dalam beragama 7.5%

Cinta 6.5%

Keberhasilan pribadi 5.7%

Kontribusi pribadi terhadap masyarakat 2.2%

Teman-teman 1.9%

Kesehatan 1.7%

Pendidikan 1.6%



(The Mood of American Youth (Alexandria, VA : Horatio Alger Association of Distinguished Americans dan The National Association of Secondary School Principles, 1996) dikutif oleh Peter L Benson,2007 : 427)

Perlu dikembangkan kegiatan-kegiatan belajar yang menantang, edukatif, kreatif, dan menyenangkan bagi siswa. Topik-topik pembelajaran usahakan dihadirkan secara aktual dan bermakna buat siswa. Banyaknya pengangguran dan kemiskinan dapat dijadikan topik bahasan dalam mata pelajaran pengetahuan sosial ekonomi misalnya. Semangat nasionalisme merah putih berkibar di Senayan dalam laga Piala Asia 2007 lalu dapat dijadikan bahan dalam pelajaran kewarganegaraan dan juga dalam lintas pelajaran olahraga. Berbagai musibah nasional seperti meledaknya pabrik petrokimia di Gresik, Lumpur Lapindo Sidoarjo, Gempa Bumi dan Tsunami Aceh dapat dijadikan inspirasi bagi lahirnya karya-karya siswa dalam berbagai bentuknya seperti laporan karya tulis, puisi, surat pembaca, drama, analisis kajian geografi, dan sebagainya. Sejarah Emas peran ulama dan umat islam dalam kemerdekaan republic Indonesia akan sangat menarik dianalisis dan dikupas oleh siswa dengan menghadirkan tokoh sejarah Islam semisal Ridwan Saidi. Tentu saja pola-pola seperti itu perlu dicontohkan oleh guru terlebih dahulu dan guru aktif mendampingi ketika siswa melakukan kegiatan seperti itu.

Mengembangkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan

Guru merupakan faktor kunci dalam pendidikan. Juga faktor kunci dalam pembelajaran. Banyak fakta menunjukkan profesionalisme guru belum maksimal. Banyak pelatihan dilaksanakan dan diikuti oleh guru. Guru kemudian menjadi tambah pandai karena mengikuti pelatihan. Portofolio pelatihan makin banyak dengan bukti fisik sertifikat yang diperolehnya.

Pengembangan guru tidak boleh berhenti pada guru menjadi pandai, tetapi harus sampai mampu menunjukkan kinerja profesionalnya yakni membimbing siswa dalam belajar.

Makna kompetensi professional adalah guru menguasai materi keilmuan secara mendalam dan menguasai kurikulum serta perangkatnya hingga pada kesiapan pembelajaran. Peningkatan kinerja profesionalnya bukan hanya diukur dari sisi gurunya, tetapi harus dilihat sejauhmana guru mampu mewujudkan learn to do, learn to be, learn how to learn, dan learn how to live together pada diri setiap siswa.

Dalam pengembangan profesionalisme guru beberapa hal harus mendapatkan perhatian seperti komitmen kerja guru dan pemberian dorongan kepada guru untuk mencobakan gagasan pembaharuan. Pemberian dorongan inovasi ini merupakan salah satu cara memberikan kepercayaan sekaligus tantangan untuk menunjukkan kemampuannya. Mereka harus didorong untuk tidak takut gagal dan tidak dicemoooh kalau gagal. Program-program peningkatan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran selalu ada dalam RAPBS dengan jumlah yang memadai sehingga mereka yang berhasil mendapatkan penghargaan. Penghargan dalam berbagai bentuk tidak selalu berupa uang, seperti kemudahan kenaikan golongan, ikut serta dalam berbagai kegiatan tertentu dan sebagainya.

Gairah kerja para guru perlu ditingkatkan dengan berbagai sentuhan psikologi dan religius. Karena pendekatan psikologi dan religius mampu meningkatkan komitmen kerja. Iklim ukhuwah kerja dimunculkan dalam berbagai bentuk yang sederhana dan tidak selalu mahal.

Dalam diri guru juga harus tumbuh kesadaran untuk senantiasa belajar. “Guru yang tidak mau belajar sebaiknya berhenti mengajar”, begitu kata Rektor UIN Syarif Hidayatulloh, Prof. Komarudin Hidayat.



Menggalang Partisipasi Masyarakat



Salah satu indikator masyarakat maju adalah adanya kontribusi positif kepada kemajuan masyarakat itu sendiri. Jika sekolah berada di lingkungan masyarakat, masyarakat tersebut akan berusaha memberikan kontribusinya. Mereka menyadari tanpa sekolah, masyarakat pun tidak akan maju. Pilihan mereka membantu sekolah adalah pilihan nurani dan cita-cita. Tidak ada dalam jiwa mereka anak-anak itu ingin bodoh. Mereka ingin anak-anaknya cerdas, pandai, dan berakhlak.

Nah sekolah inovatif akan selalu berusaha menggalang partisipasi masyarakat. Inovasi dalam kaitan dengan kehadiran sekolah dengan masyarakat dapat banyak bentuknya. Mulai dari menggalang kebersamaan dalam menjadikan sekolah yang aman, sekolah yang dimenjadi sumber cerita sugestif siswa, sekolah yang menjadikan masyarakat sebagai salah satu sumber belajar penting. Intinya, menggalang partisipasi masyarakat dapat berupa dorongan kepada masyarakat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif pada program sekolah, kontribusi tenaga, kontribusi waktu, dan jika masyarakat mampu kontribusi dana.

Namun, untuk mendapatkan dukungan masyarakat, sekolah harus mampu melahirkan simpati masyarakat. Sekolah perlu menata dirinya agar pantas didukung oleh masyarakat. Jelas, masyarakat akan membantu jika mereka yakin sekolah dapat memanfaatkan bantuannya dalam bentuk nyata. Langkah awalnya -dalam kaitan masyarakat- adalah dengan tidak menyia-yiakan keberadaan komite sekolah. Komite sekolah tidak posisikan sebagai pemadam kebakaran jika sekolah perlu dana.



Penutup



Sekolah inovatif telah dibentangkan melalui tulisan sederhana ini. Semoga sekolah benar-benar dapat berfungsi sebagai institusi pencerdas bangsa dalam maknanya yang hakiki dan luas. Bukan berarti selesai dibaca tulisan ini, sekolah menjadi inovatif. Salah. Berinovasilah dengan memulai dari sekolah terdekat kita.

Menu Utama

* Home
* Profil
* Unit
* Kolom
* Reportase
* Konsultasi
* Artikel
* Karya Siswa
* Resensi Buku
* Taujih
* Kisah Inspiratif
* NF Peduli
* Gallery Foto
* Web Mail
* Alamat Kontak

Login

Username

Password

Remember Me

* Forgot your password?
* Forgot your username?
* Create an account

Info Palestina

* Al-Qossam : Semua Zionis Jadi Terget Serangan Kami
* Hamas Tepi Barat : Darah AS-Syahid Daudin Tidak Akan Percuma
* Amnesti Internasional: Serangan Israel ke Gaza Mendorong ke Jurang Tragedi
* Warga Palestina Jajahan 1948 Tantang Keputusan Israel Larang Peringati Nakbah
* Badan Arab Internasional untuk Pemulihan Gaza Dirikan Bironya di Jalur Gaza
* Baher Umumkan Revisi Tiga UU
* Tahanan Hamas Sampaikan Ucapan Selamat dalam Peringatan Kemenangan Perlawanan Libanon

Republika

* Daftar SNMPTN Bisa di Bank Mandiri
* Dikti Sediakan 4.000 Beasiswa SNMPTN
* Akses Pendidikan Kurang Merata
* Minim, Pustakawan di Perpustakaan Sekolah
* Pendidikan Seks Sebaiknya di SMA
* Masih Sedikit Pelajar Kunjungi Galeri Nasional
* Unlam Terima Hibah Rp 8,7 Miliar

Arsip

* December, 2008
* November, 2008
* October, 2008
* September, 2008
* August, 2008
* June, 2008
* April, 2008
* March, 2008
* February, 2008


Link

UG-ICT AWARD 2008
Edukasi-NET
Jardiknas
Beasiswa.COM
Harun Yahya
Dakwatuna
Pengunjung
Sejak September 2008
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counter Hari ini 93
mod_vvisit_counter Pekan ini 1210
mod_vvisit_counter Bulan Ini 6529

Our site is valid CSS Our site is valid XHTML 1.0 Transitional

Rabu, 20 Mei 2009

Foto Wisuda di IKIP UNJUNGPANDANG



bersama ayah tercinta Demmatadju dan Siti Suberiah ketika di wisuda di IKIP Ujungpandang

Ridwan Demmmatadju bersama sutardji colsoum bahri di Pertemuan Sastrawan Nusantara

SMAN 1 Latambaga


BERITA PENDIDIKAN

UNHALU BAHAS PENYELENGGARAN UN
Tak sekadar membahas program kerja lingkup Unhalu, tetapi penyelenggaraan ujian nasional (UN) bersama Dinas Pendidikan Sultra dan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) saat rapat kerja (Raker) di lingkup Unhalu, akhir pekan lalu dibahas. Inti pembahasan terkait beberapa ketimpangan yang terjadi saat UN, termasuk bagaimana mengatasi kerawanan yang kemungkinan bisa terjadi.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pendidikan Sultra Drs Masri MPd, mengatakan, sebagai pengajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tentu saja guru yang paling resah saat penyelenggaraan UN. UN menjadi momok sebagian besar orang, baik dari pendidik maupun peserta didik (siswa-red) itu sendiri.

“ Hasil pengamatan yang dilakukan Dinas Pendidikan Sultra, ada sekolah yang belum menerapkan aturan yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan khususnya UN. Merujuk pada PP Nomor 19 Tahun 2005, penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah memiliki tiga tahapan yang selama ini tidak dilaksanakan dengan baik,”tandas Masri.

Penilaian tersebut, lanjutnya, adalah penilaian hasil belajar yang dilaksanakan pendidik itu sendiri. Tepatnya, saat proses belajar mengajar, guru cenderung memberikan nilai subyektif, tidak menilai siswa dengan kompetensi yang dimiliki siswa. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh satuan pendidik, umumnya sebagian kepala sekolah mengharuskan semua siswanya naik kelas, sehingga untuk menghindari teguran dari kepala sekolah guru cenderung memberi nilai sesuai kehendak kepala sekolah serta penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pemerintah yaitu melalui UN.

“Ada beberapa hal agar UN dapat dijadikan alat untuk memajukan mutu pendidikan di antaranya, perlunya sosialisasi, pembuatan kisi-kisi yang melibatkan semua kompenen, perakitan soal, pendataan peserta ujian, pencetakan naskah, pendistribusian naskah ke daerah-daerah, pengawasan, pelaksanaan UN serta penetapan kelulusan,” ungkap mantan Kepala SMAN 2 Kendari ini.

Staf LPM Sultra Alaudin Majid, mengakui selama penyelenggaraan UN banyak kritikan dari masyarakat baik pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum. Mereka mengganggap UN tidak berjalan dengan adil. Karenanya, sebagai penyelenggara UN dituntut menggunakan langkah yang jitu untuk mengantisipasi fakta yang akan terjadi dilapangan selama ini.

“Kondisi penyelangaraan UN, masih terdapat penyimpangan dari apa yang ditentukan dengan prosedur operasi standar. Penyimpangan ini muncul pada tingkat provinsi, Kabupaten/Kota dan satuan pendidikan. Ketidaksesuaian seperti kondisi bahan ujian di antaranya jumlah soal yang kurang, lembar jawaban sobek, hasil cetak naskah buram serta halaman soal yang terbalik,” tutur Alaudin Majid.

Rektor Unhalu Prof Dr Ir Usman Rianse MS, juga menjelaskan, jika tahun ini penyelenggaraan UN berhasil membangun citra UN, maka dapat menjadi virus positif bagi pengembangan kualitas pendidikan di Sultra. Perubahan strategi pelaksaan UN, bagi SMA dan Madrasah Alliyah adalah keinginan pemerintah dan masyarakat yang dituangkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003, bahwa UN diselenggarakan dengan lembaga independen sehingga tidak bertentangan dengan otonomi daerah karena organisasi independen yang disepakati pada tingkat nasional adalah badan standar nasional pendidikan. Sementara hasil ujian tertentu harus menjadi salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya.

“Ide itu pernah diminta majelis rektor se-Indonesia, 20 hingga 30 persen hasil UN dapat dijadikan syarat untuk masuk Perguruan Tinggi, namun ditolak, karena UN belum kredibel,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

BKD SUSUN FORMASI CPNS 2009
Rencana penerimaan CPNSD 2009 yang akan dilakukan serentak pemerintah mengharuskan Pemprov Sultra mengusulkan jumlah kuota pamong yang dibutuhkan daerah ini ke pusat. Sekarang, 12 BKD Kabupaten/Kota tengah merampungkan data keseluruhan jumlah CPNSD.

“Setelah dilakukan analisa kajian kebutuhan, maka barulah formasi usulan disampaikan ke kementrian pendayagunaan aparatur negara,” terang Thamrin Patoro, Asisten III Pemprov Sultra beberapa hari lalu. Nantinya, berapa jatah Sultra, Asisten III Pemprov ini tidak mengetahui secara pasti, mengingat Kementrian PAN belum menyampaikan pesan tertulis kuota formasi 2009.

Terkait perbandingan penerimaan antara tenaga teknis, kesehatan, dan guru , ketua panitia penerimaan CPNSD 2008 ini mengatakan masing-masing BKD menyusun sesuai kebutuhan daerah.

Soal kepastian waktu penerimaan, Thamrin menepis memberi sinyal kepastian, apalagi Pemprov belum mengetahui kuota pembagian pusat. “Nanti-nantilah, waktunya akan kami publikasikan bila momennya tepat,” tutur pria berkumis tipis ini.

Saat ditanya formasi tambahan 2008 seperti yang dijanjikan sebelumnya, Thamrin memilih puasa berbicara, dan tak berani lagi berargumen. Tetapi kata dia, jadwalnya telah diketahui pemerintah, hanya saja sejauh ini belum dapat diketahui masyarakat, mengingat sifatnya rahasia. “Kami perjuangkan tetap ada,” tambah Thamrin sambil berlalu dengan kendaraan dinasnya.

Sekedar mengingatkan, Desember 2008 lalu, Thamrin Patoro pernah mengumbar janji bila Pemprov mendapat jatah tambahan CPNSD 2008 sebanyak 3000-an orang. Dimana penerimaannya dibuka medio Januari, dan Februari. Namun hingga akhir bulan ini, tanda-tanda isyarat mantan Kadis Sosial itu semakin kabur.

OPINI PENDIDIKAN


Kambing Hitam Bernama Ujian Nasional

Oleh : Ridwan Demmatadju

Upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia boleh jadi hanya isapan jempol belaka dan penuh dengan kebohongan yang massif terjadi depan mata. Perangkat Ujian Nasional (UN) menjadi jalan pintas untuk mengukur keberhasilan sebuah intitusi formal maulai dari sekolah hingga pejabat kepala dinas pendidikan baik di tingkat kabupaten hingga di pusat. Ketika angka-angka peningkatan kelulusan itu terlihat mengalami peningkatan yang cukup signifikan maka disimpulkanlah bahwa mutu pendidikan membaik.Namun jika angka-angka itu terlihat anjlok maka mulai dari pejabat di pusat hingga di kabupaten ramai-ramai mencari kambing hitam untuk dijadikan tumbal sorotan masyarakat serta media cetak dan elektronik.

Sebenarnya apa yang salah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.Padahal anggaran pemerintah yang digelontorkan disektor pendidikan kita terbilang cukup besar jumlahnya. Dari kebijakan anggaran dari Pemerintah sudah cukup berpihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita.Namun banyak anggapan dengan besarnya anggaran saja tidaklah cukup untuk mendongkrak mutu pendidikan kita hari ini, karena sesungguhnya persoalan tidak sesederhana yang kita bayangkan. Membicarakan mutu pendidikan sangatlah kompleks permasalahannya.

Kemudian,untuk membedah sekaligus mencari solusi atas persolan dunia pendidikan hingga hari ini tak ada satupun teori maupun metode yang baku dan berlaku permanent. Bahkan dari sekian banyak seminar,workshop, yang dibawakan oleh para pakar pendidikan di Indonesia hari ini faktanya mutu pendidikan kita masih terbelakang dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Dari berbagai persoalan yang terjadi di dunia pendidikan kita hari ini, nampaknya kita telah terjebak pada aturan main yang sangat kaku dari perencanaan peningkatan mutu pendidikan yang dikeluarkan pihak Depdiknas di Jakarta. Kendati dalam penjabarannya pihak Depdiknas sebenarnya, mengharapkan adanya kreativitas dari operator pendidikan mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota dalam hal ini Kepala Sekolah dan guru dapat menyesuaikan format kurikulum yang dibuat pihak Depdiknas. Karena disadari penjabaran kurikulum di sekolah itu berperinsip pada fleksibilitas tidak kaku, disesuaikan dengan kondisi sekolah di tiap daerah. Namun dalam kenyataannya masih banyak juga yang tak memahami prinsip dasar dari kurikulum itu. Disinilah persoalan besar yang menurut penulis memerlukan perhatian serius dari pejabat dinas pendidikan yang berwenang untuk mengaturnya. Jika tidak maka benang kusut persoalan pendidikan di Indonesia tak akan pernah menemukan titik penyelesaian.

Membicarakan wacana mutu pendidikan kita hari ini, lagi-lagi kita selalu terjebak pada perdebatan dengan argumentasi yang dangkal, bahwa mutu pendidikan hanya menjadi tanggungjawab guru yang dianggap sebagai operator lapangan. Paradigma masyarakat ini juga menjadi soal, padahal untuk mengangkat mutu pendidikan adalah tanggungjawab semua pihak yang terkait dengan pendidikan, bukan ditangan guru dan kepala sekolah saja.

Sementara, upaya yang dilakukan pemerintah pusat dalam hal ini Depdiknas selaku penanggungjawab pengembangan dan perencanaan mutu pendidikan di Indonesia juga terkesan menyederhanakan sekaligus mengesampingkan persoalan krusial yang terjadi di setiap daerah dalam menerapkan standar mutu pendidikan. Dengan pemberlakuan UN dengan materi yang seragam serta tingkat kesulitannya sama, ternyata hingga hari ini masih menjadi polemik dikalangan praktisi pendidikan utamanya guru yang mengajar di sekolah.

Sangat ironis memang, ketika pihak Depdiknas menerapkan standar secara nasional angka kelulusan dengan nilai 5.50 untuk semua mata pelajaran UN. Dari angka kelulusan ini saja setidaknya menjadi masalah besar telah terjadi di setiap sekolah di daerah tertinggal dengan fasilitas dan tenaga pengajar dimiliki yang tidak memamadai untuk mengejar angka kelulusan tersebut. Sebagai konsekuensi keputusan yang berlaku nasional dan bersifat “dipaksakan” dalam pelaksanaannya di setiap provinsi dan kabupaten/kota sehingga menimbulkan respons yang negatif dari pejabat pendidikan di daerah. Dengan berbagai cara dan upaya untuk mendapatkan penilaian lulus hingga 100 persen ditempuh oleh pihak yang berkepentingan untuk mengangkat citra pendidikan di daerahnya, meski dengan cara-cara yang tidak patut diteladani seperti membocorkan soal, menyebarkan jawaban kepada siswa hingga membentuk tim sukses UN. Parahnya lagi, perbuatan tidak terpuji ini dilakukan oleh oknum kepala sekolah dan guru-guru, serta pengawas UN seperti banyak diberitakan di media cetak dan televisi sesaat menjelang pelaksanaan UN 2009 di seluruh Indonesia.

Dari fakta-fakta yang terpublikasi secara terbuka ini setidaknya menjadi pukulan berat bagi Depdiknas untuk melakukan perubahan secara komprehensif. Bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Paling tidak ada beberapa tawaran solusi untuk melakukan perubahan dalam penilaian kualitas pendidikan kita khususnya di jenjang pendidikan dasar dan menegah.

Pertama, memberikan kewenangan setiap daerah baik di tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota untuk menentukan sendiri standar kelulusan dalam pelaksanaan Ujian Nasional, yang bermuara pada penilaian dari pihak sekolah. Dengan pertimbangan bahwa penilaian secara nasional yang selama ini diberlakukan selama ini tidak memberikan jaminan mutu terhadap dunia pendidikan kita. Mutu pendidikan kita dari hari ke hari semakin buruk saja jika kita mengacu angka-angka sebagai bentuk penilaian kuantitatif. Dan rupaya Depdiknas telah terjebak pada penilaian angka-angka yang secara implementaif tidak dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Kedua, Persoalan ini dapat teratasi jika pihak penyelenggara pendidikan baik di tingkat Provinsi dan Kabupaten/kota yang didukung pihak sekolah memiliki sikap tegas dan kesamaan presepsi dalam memerikan output penilaian mutu pendidikan.

Ketiga, semua pihak penyelenggara pendidikan memiliki transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanan kebijakan di bidang pendidikan, termasuk pengelolaan anggaran di sector pendidikan. Hal ini sangat penting diterapkan untuk mengajak peran serta semua elemen masyarakat untuk peduli terhadap mutu pendidikan di Indonesia.

Keempat, untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang bernilai serta bermanfaat bagi masyarakat diperlukan gerakan pencerahan sebagai bentuk kesadaran moral semua pihak yang terkait dengan pendidikan, utamanya guru dan kepala sekolah sebagai ujung tombak peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Tentunya, pihak pemerintah membuat regulasi peningkatan penghargaan dan apresiasi terhadap guru di lapangan. Salah satu upaya yang telah dilakukan peemerintah adalah dengan sertifikasi guru dan memberikan tunjangan kepada guru tidak tetap (GTT) yang telah mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Setidaknya upaya pemerintah pusat melalui Depdiknas ini telah memberikan apresiasi terhadap guru.

Kelima, pihak Diknas baik di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota membuka diri untuk menerima kritik dan saran dari masyarakat. Karena selama ini banyak institusi yang dibentuk untuk mengawal kebijakan pemerintah di bidang pendidikan namun terkesan tidak bekerja sesuai harapan, seperti komite sekolah, dewan pendidikan. Termasuk membuka diri terhadap kritik media dan lembaga swadaya masyarakat peduli pendidikan, karena sesungguhnya persoalan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia juga sangat ditentukan oleh keterlibatan semua stakeholder untuk ikut membantu. Selain itu, upaya menyelesaikan persoalan mutu pendidikan nampaknya problem krusial juga terjadi di luar sistem birokrasi sekolah, seperti faktor lingkungan sosial, latar belakang ekonomi dan ketersediaan sarana belajar bagi masyarakat menjadi variable yang ikut menentukan mutu pendidikan di daerah.

Dari lima tawaran solusi ini, paling tidak dapat dijadikan acuan untuk mengambil keputusan apakah UN masih layak dipertahankan atau dilakukan revisi untuk perubahan. Hal ini terpulang pada sang penguasa di negeri ini yang mengatur system pendidikan di Indonesia dan political will dari Depdiknas untuk mendengar masukan dari masyarakat. UN dapat saja dipertahankan dengan beberapa catatan penting yang memerlukan pembahasan secara teknis dengan memperhatikan indicator outputnya sehingga tidak menimbulkan polemik yang tak kunjung selesai.Apalagi kita sibuk mencari kambing hitam.

Penulis adalah mantan wartawan, kini bekerja sebagai praktisi pendidikan di SMA Negeri 1 Latambaga, Kabupaten Kolaka. Email : ridwandmkolaka@yahoo.co.id